Satu jam berlalu. Aku tak menemukan benda yang kuinginkan. Ku ambil perangkat komunikasiku. Ada sebuah pesan rupanya. Ah dari Bonet .. Seperti biasa, sekedar bertanya dimana, lalu berujung mengajak keluar bertemu. Sungguh hampir selalu begitu. Mendadak. Tapi rupanya, ide kali ini bukan datang dari dia, tapi dari Sasa.
Dasar badan dan otak tak sinkron. Sudah tahu badan nyaris ambruk, masih saja ku iya-kan ajakan mereka. Lalu, berjanjianlah kami 18.30 di Pasar Festival. Sudah kuduga, tentu saja itu hanya jam khayalan. Kenyataannya...19.00 syukur, lebih dari itu... ya harap maklum, terutama Bonet.
Aku tiba duluan disana, disusul Sasa. Bonet? Ah bahkan ketika kami sampai dia baru jalan. Sekali lagi, harap maklum. Sesampainya disana, tujuan utamaku adalah kamar mandi. Jujur, kebelet. Lalu, Sasa memberitahuku kalau ia sudah ada di toko buku sebelah salon.
Ya. Sesudah kuselesaikan urusanku, segeralah aku ke sana. Kulihat sosok perempuan berambut pendek, memakai tas ransel feminin, dan sepatu hak agak tinggi. Wow, Sasa sudah berubah! teriakku dalam pikiranku. Cukup terkejut memang. Lalu, segeralah ku hampiri dia.
Ku tepuk pundaknya cukup kencang,tanda keakraban. Tentu saja mataku tertuju pada kedua kakinya yang memakai sepatu ber- hak. Ku puji dia dengan lantang, memecah kesunyian di toko buku itu, “Sasa! Asiiiiiik, cantik!”. Sekali lagi mataku benar- benar terpana pada sepatunya. Perlahan barulah ku naikkan mataku sampai akhirnya mata kami pun bertemu.
Ooops. Kali ini adalagi yang lebih mengejutkanku. Wajahnya kini berbeda. Matanya, alisnya, hidungnya dan mulutnya,semuanya tidak sama. Ya, perempuan itu ternyata memang bukanlah Sasa. Sa....... sapalah namanya aku pun tak tahu!! Perempuan itu pun mengerutkan wajahnya, tanda ia sangat bingung. Aku pun hanya bisa sekedar tersenyum, lalu dengan satu kata "Maaf!” ku ambil langkah seribu. Segera menjauh darinya.
Sial, salah orang rupanya......

0 commentaires:
Enregistrer un commentaire